Tata Cara Niat Puasa Sunnah Ayyamul Bidh Keutamaan Dan Artinya 2022 1444 H

Puasa ayyamul bidh adalah sebuah amalan yang di kerjakan tiga hari setiap bulan hijriyah, tepatnya pada tanggal 13, 14 dan 15. Hukum puasa ayyamul bidh sunnah muakad, di anjurkan pelaksanaannya bagi setiap muslim yang baligh, mampu, sehat dan berakal. Karena pada puasa sunnah ini terdapat banyak kebaikan dan pahala yang cukup tinggi serta semua itu akan di dapat oleh siapa saja yang rajin mengerjakannya.

Kenapa dinamakan dengan puasa ayyamul bidh? dalam sebuah sejarah di riwayatkan bahwa ketika Baginda nabi Adam AS oleh Allah swt diturunkan ke muka bumi ini, seluruh tubuhnya gosong atau menjadi hitam karena sengatan matahari. Kemudian Nabi Adampun Mendapatkan wahyu untuk berpuasa 3 hari yaitu tanggal 13, 14 dan 15 yang mana sekarang puasa ini dikenal dengan puasa ayyamul bidh.

Setelah mendapatkan wahyu tersebut nabi Adampun mulai berpuasa, pada hari pertama sepertiga tubuhnya menjadi putih, hari kedua sepertiga tubuhnya menjadi putih, dan pada hari ketiga sepertiga sisa tubuhnya menjadi putih. Namun mengenai asal usul dari penamaan puasa ayyamul bidh juga menurut pendapat lain ada yang mengatakan bahwa, sebab malam dan siang tanggal tersebut cerah.

Puasa Ayyamul Bidh

Bahkan ada juga para ulama yang berpendapat bahwa pada tanggal-tanggal tersebut sering terjadi gerhana, dan di anjurkan ketika gerhana datang untuk melakukan ibadah khusus, dari situlah puasa pada tanggal itu di sunnahkan. Dengan demikian keluar dari semua perbedaan asal usulnya, puasa ayyamul bidh ini hukumnya adalah sunnah muakad, maka mari kita kerjakan jangan sampai terlewat.

Dalil Puasa Ayyamul Bidh

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيْضِ في حَضَرٍ وَلاَ سَفَرٍ. (رواه النسائي بإسنادٍ حسن)

Artinya, “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: ‘Rasulullah saw sering tidak makan (berpuasa) pada hari-hari yang malamnya cerah baik di rumah maupun dalam bepergian’.” (HR an-Nasa’i dengan sanad hasan).

وَعَنْ قَتَادَةَ بْنِ مِلْحَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا بِصِيَامِ أَيَّامِ الْبِيْضِ: ثَلاثَ عَشْرَةَ ، وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ، وَخَمْسَ عَشْرَةَ. (رواه أَبُو داود)

Artinya, “Diriwayatkan dari Qatadah bin Milhan ra, ia berkata: ‘Rasulullah saw telah memerintah kami untuk berpuasa pada hari-hari yang malamnya cerah, yaitu tanggal 13, 14, dan 15’.” (HR Abu Dawud). (An-Nawawi, Riyâdhus Shâlihîn, juz II, h. 81).

Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh

Selain mendapatkan kebaikan pahala dari palsanaan amalan sunnah, puasa ayyamul bidh itu sendiri memiliki keutamaan pahala yang sangat besar sekali. Orang yang mengerjakan puasa ayyamul bidh sekaligus mendapatkan kesunnahan puasa tiga hari setiap bulan, sementara untuk puasa tiga hari tiap bulan itu laksana puasa satu tahun.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ صَامَ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَة أَيَّام، فَذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ، فَأَنْزَلَ اللهُ تَصْدِيقَ ذَلِكَ فِي كِتَابهِ الْكَرِيم: مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَة فَلهُ عشر أَمْثَالهَا [الأنعام: 160]. اَلْيَوْمُ بِعشْرَةِ أَيَّامٍ (رَوَاهُ ابْن ماجة وَالتِّرْمِذِيّ. وَقَالَ: حسن .وَصَححهُ ابْن حبَان من حَدِيث أبي هُرَيْرَة رَضِيَ اللهُ عَنْه)

Artinya, “Diriwayatkan dari Abu Dzar ra, sungguh Nabi saw bersabda: ‘Siapa saja yang berpuasa tiga hari dari setiap bulan, maka puasa tersebut seperti puasa sepanjang tahun. Kemudian Allah menurunkan ayat dalam kitabnya yang mulai karena membenarkan hal tersebut: ‘Siapa saja yang datang dengan kebaikan maka baginya pahala 10 kali lipatnya’ [QS al-An’am: 160]. Satu hari sama dengan 10 hari’.” (HR Ibnu Majah dan at-Tirmidzi. Ia berkata: “Hadits ini hasan.” Ibnu Majah juga menilanya sebagai hadits shahih dari jalur riwayat Abu Hurairah ra). (Abu Bakar Ibnus Sayyid Muhamamd Syatha ad-Dimyathi, I’ânatut Thâlibîn, [Beirut, Dârul Fikr], juz II, halaman 269; dan Ibnul Mulaqqin, Tuhfatul Muhtâj ilâ Adillatil Manhâj, [Makkah, Dâru Harrâ’: 1406 H], juz II, h. 109-110).

Tata Cara Puasa Ayyamul Bidh

Pertama : Persiapkan dulu niatnya, karena niat dalam beribadah menjadi salah satu rukun yang harus dilakukan, untuk niat puasa ayyamul bidh dilakukan pada malam hari dan cukup membisikannya didalam hati, adapun mengucapkan secara lisan adalah hukumnya sunnah. Namun mengenai niat puasa sunnah, boleh siang hari jika lupa malam hari, dengan syarat yang bersangkutan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Niat Puasa Ayyamul Bidh

نَوَيْتُ صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيْضِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ayyâmil bîdl lilâhi ta’âlâ.

Artinya, “Saya niat puasa Ayyamul Bidl (hari-hari yang malamnya cerah), karena Allah ta’âlâ.”

Kedua : Bagi yang berencana akan berpuasa esok harinya, maka jangan lupa untuk makan sahur, karena amalan makan sahur sunnah dalam berpuasa, alangkah baik jika makan sahur ini di kerjakan menjelang subuh atau sebelum imsak.

Ketiga : Selama menjalankan puasa di anjurkan untuk menjaga diri dari berbagai hal yang dapat membatalkan dan mengurangi pahala puasa, misalnya menggunjing orang lain, berkata kotor, berperilaku buruk dan lain sebagainya.

Ke Empat : Segera berbuka jika sudah sampai pada waktu berbuka yang di tandai dengan berkumandangnya adzan magrib.

Bagaimana jika tanggal 13 yang bertepatan dengan hari tasyrik seperti pada bulan dzulhijjah, sedangkan hari tasyrik dilarang berpuasa?. Dalam hal ini para ulama berpendapat bahwa puasa ayyamul bidh bisa di laksanakan pada tanggal 14, 15 dan 16.

Ada banyak sekali kutamaan dan hikmah dari puasa sunnah, baik itu berhubungan dengan pahala ibadah dan juga berkaitan dengan kesehatan tubuh, maka dari itu mari kita sama-sama untuk tidak meninggalkan puasa ayyamul bidh tiap bulannya dan semoga kita semua tergolong umat baginda nabi yang bisa mendapatkan syafaatnya di hari nanti, serta kehidupan dunia semakin mendapatkan keberkahan.